2007/12/22

Terkadang kita itu eGois, tidak ingin disakiti orang lain. Padahal, tidak kita sadari bahwa kita sendiri suka menyakiti orang lain.

Terkadang kita itu eGois, terlalu cepat menyimpulkan sesuatu perkara, jika itu tidak benar, maka akan menimbulkan FITNAH. Padahal, tidak kita sadari bahwa ada sesuatu yang tersimpan dibalik perkara tersebut sebuah KEBENARAN yang HAKIKI.

Terkadang kita itu eGois, berdalih dengan kata menolong, peduli, perhatian, sayang, ingin membuat orang lain berguna. Padahal, tidak kita sadari bahwa kita sendiri tidak berguna dan mengharapkan pamrih dari orang yang kita bantu, bahkan membuat orang lain itu tEriKat dan menderita atas semua kebaikan kita.

Terkadang kita itu eGois, mencoba menjadi TUHAN dengan mengadili dan menghakimi orang lain. Padahal, tidak kita sadari bahwa kita tidak punya daya dan upaya serta kekuatan untuk menentukan kEbeNAran yang Sejati.

Terkadang kita itu eGis, Selalu ingin menang sendiri, merasa pendapatnya yang paling benar. Padahal tidak kita sadari bahwa kemenangan dan kebenaran itu milik orang lain.

Pernahkah kalian berfikir, mengapa begini? atau mengapa begitu?

Motivasi, motivasi bahasa yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Kalo diamati, prilaku manusia itu didasari oleh motivasi, Contohnya seperti ini : "Seseorang telah melakukan PEMBALASAN. Yang memotivasi dia melakukan pembalasan adalah karena dia telah disakiti/dilikai/dianiaya (misalnya)" atau contoh lain : "seseorang akan mencari mata pencaharian lain jika penghasilanya tidak mencukupi kebutuhannya". Ini adalah sesuatu yang wajar menurut saya, seseorang akan berontak jika dia terikat. Seperti halnya burung dalam sangkar.

Minggu lalu saya memposting sebuah sikap seorang pimpinan terhadap bawahan. Jadikanlah itu sebuah pengalaman yang akan kalian hadapi dimasa mendatang. Pesan saya " pertimbangkanlah jika teman2 diberikan kepercayaan lebih, harta, jabatan dll niscaya kamu akan bergantung pada orang tersebut sampai akhir hayat ". Jujur saya telah membuat pilihan yang salah...

Kalo kata Mang Djadjat mah, "Hirup tak saendah harapan mang Kokon...,"

2007/11/23

Satu lagi yang saya suka artikel dibawah ini. Sekarang coba teman-teman sekalian bercermin dari hal ini...

Di bawah ini adalah kutipan dari seorang dosen di ITB, namanya ONNO. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih karena dari kutipan Pak Onno, saya jadi banyak inspirasi.

Berikut adalah kutipannya :

"Secara umum, pengalaman saya sebagai dosen di ITB, sebuah kurikulum sebetulnya amat sangat subjektif & sangat tergantung kepada tujuan si perancang kurikulum & si pendidik dalam menyampaikan materi-nya kepada siswa.

Saya pribadi mempunya style tersendiri dalam menyampaikan materi & biasanya banyak saya sembunyikan dalam tugas kepada mahasiswa saya di ITB. Selama saya di ITB, saya mengajar tidak mengikuti kurikulum di ITB, memang judul kuliah di berikan oleh pimpinan, tapi isi materi suka-suka saya.

Terlepas dari itu semua, saya membaca materi / kurikulum yang diberikan, terus terang sebetulnya dalam hati kecil saya … saya geli sendiri kalau saya bandingkan dengan kemampuan anak-anak saya, karena kurikulum yang diberikan sangat ketinggal jauh di bandingkan kemampuan anak-anak saya. Untuk memberikan beberapa contoh bagaimana tertinggalnya kurikulum yang di ajukan, antara lain,

* Pada saat anak saya yang berumur dua (2) tahun, dia sudah mulai mengenal mouse dan dapat menjalankan mouse untuk melalukan navigasi di komputer. Mouse adalah alat navigasi pertama yang akan digunakan oleh seorang anak. Padahal di kurikulum baru akan di ajarkan di kelas I SD.
* Pengenalan peralatan / hardware komputer mulai di lakukan sejak anak saya berumur empat (4) tahun, karena takut merusak komputer pada saat shutdown sembarangan dll. Padahal di kurikulum baru di ajarkan kelas 1 / 2 SD.
* Pada saat anak saya kelas TK B, dia sudah bisa menginstall software mainannya sendiri tanpa kesulitan yang berarti. Padahal dikurikulum baru akan di ajarkan kelas 1 SMU.
* Pada saat anak saya kelas 3 SD, dia sudah biasa surfing di Internet & sangat faham teknik mencari informasi di Internet. Dia juga sudah mulai mempunyai e-mail tapi kesulitan untuk mencari lawan ber-email-nya karena tidak banyak anak Indonesia yang berada di Internet pada usia semuda itu. Padahal ini baru di ajarkan kelas 5 SD.
* Pada saat anak saya kelas 4 SD, dia sudah biasa menulis di MSWord & Excel dari hasil dia surfing di Internet. Padahal ini baru akan di ajarkan di SMP & SMU.
* Pada saat anak saya kelas 6 SD, network gaming merupakan bagian integral dari dia. Game strategi seperti Red Alert merupakan game mengasah otak untuk perkembangan otaknya dalam berstrategi & keberanian mengambil resiko.

Hal di atas juga ternyata terjadi pada teman-teman anak-anak saya. Bahkan beberapa di antaranya sudah bisa memaintain sendiri komputer-nya & mengoperasikan server Linux pada saat mereka kelas 6 SD.

Dalam interaksi saya dengan SMP & SMU Lab. School di Jakarta, tampaknya topik hacking merupakan topik yang mereka cari-cari dari komputer selama ini. Dalam beberapa kali kesempatan berinteraksi dengan para siswa SMP & SMU, mereka perlu mengaktualisasi dirinya … menjadi hacker adalah idaman banyak anak SMP & SMU di banyak tempat (bukan hanya Lab. School). Akibatnya topik-topik berat seperti arsitektur komputer, arsitektur jaringan komputer, teknik programming, teknik instalasi server, teknik instalasi jaringan adalah materi normal baru anak-anak SMU kelas 1 & 2 yang ingin sekali menjadi hacker. Saya seringkali berinteraksi dengan mereka melalui e-mail & beberapa di antaranya telah menginstall server & WLAN di rumahnya.

Sebetulnya sebuah kurikulum yang baik, tidak perlu memisahkan komputer dengan perajaran lainnya, tapi malah menjadikan komputer sebagai bagian integral dari proses belajar mengajar. Komputer juga digunakan di pelajaran ipa, dipelajaran bahasa indonesia, di pelajaran agama, di pelajaran matematika dll. Contohnya bisa dilihat di http://www.yahooligans.com. Komputer sebetulnya hanya alat bantu & harusnya dapat membantu semua mata pelajaran, tidak perlu dipisahkan menjadi pelajaran sendiri.

Kesulitan utama yang ada semuanya sebetulnya berada di tangan guru. Beberapa hal yang perlu di perhatikan:

* Guru harus menguasai betul materinya, ini biasanya berat karena teknologi informasi & komputer berkembang sangat pesat.
* Guru yang baik tidak akan terikat pada kurikulum karena kurikulum akan selalu ketinggal jaman.
* Guru yang baik akan selalu mengajak siswanya bermain dengan peralatan komputernya, walaupun sebetulnya proses pembentukan siswa terjadi.
* Guru yang baik akan selalu mengajak siswanya untuk menjadi produsen pengetahuan; mencoba, merangkum, menganalisis & terakhir menulis hasil pencarian ilmunya di Internet.
* Tingkat kesulitan menjadi guru demikian sangat tinggi, memang dibutuhkan skill & pengetahuan yang dalam.

Sayangnya banyak orang tua, guru & para ahli yang kurang mengerti potensi dari anak didiknya. Mereka banyak yang mempunyai kemampuan tinggi, sangat di sayangkan jika mereka tidak bisa di fasilitasi untuk menjadi maju"
.

Bagaimana dengan anda? apakah anda sudah bisa bersaing dengan dunia globalisasi saat ini?

2007/10/03

SKYLINK CYBER COMMODITY

Dengan eCHo sebagai kiblat kami.
"Kami adalah sekumpulan individu yang ingin bebas memacu kinerja otak dan adrenalin di tubuh Kami; ingin bebas melakukan hal-hal menarik yang sulit terpecahkan bahkan mustahil sekalipun; ingin bebas meneliti untaian kode yang ada, mencari kelemahan bukan untuk melemahkan; ingin bebas menemukan keasyikan menelusuri elektron dan baud tanpa batasan waktu; ingin bebas bergerak dalam aliran pulsa yang terhantar bebas keseluruh titik di dunia; ingin bebas menentukan sendiri apa yang Kami butuhkan dan Kami percayai; ingin bebas berkomunikasi, menjelajah dan menikmati ini dengan bebas tanpa ada perbedaan, ingin bebas bertukar, belajar dan berbagi semua kemurnian ilmu pengetahuan, bukan oleh aturan-aturan yang telah ditentukan dan dikendalikan ketamakan, bukan demi setumpuk kekayaan, kejayaan ataupun keabadian, bukan pula untuk merusak, menakuti atau bahkan menghancurkan, tetapi hanya demi kenyataan bahwa Kami sama."

SKYLINK adalah suatu organisasi yang bergerak dalam bidang telnologi informasi dalam membangun kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya di Kab. Kuningan.

GAPURA "ABAH MADKUR"
Kami tunggu komentar anda.